MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN KHAS SAINS
Pembelajaran suatu kegiatan yang dirancang oleh guru
agar siswa melakukan kegiatan belajar, untuk mencapai tujuan atau kompetensi
yang diharapkan . dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang guru
semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, yang ingin
dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan
disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta
penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan pengukuran
terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki
siswa.
Berkaitan
dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan
pembelajaran , seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendakatan,
strategi, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan
tuntutan kepada guru untuk dapat memilah , memilih, dan menetapkan dengan tepat
metode pmbelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
a.
Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
menggambarkan prosedur sistematik dalam pengorganisasian kegiatan belajar untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, model pembelajaran adalah
rancangan kegiatan belajar agar pelaksanaan belajar mengajar dapat berjalan
dengan baik, menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan urutan yang logis.
Istilah model pembelajaran sering
dimaknai sama dengan pendekatan pembelajaran. Bahkan kadang suatu model
pembelajaran diberi nama sama dengan nama pendekatan pembelajaran.
Sebenarnya model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada makna
pendekatan, strategi, metode, dan teknik.
Model pembelajaran berbeda dengan strategi
pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model
pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep
model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan
dalam setting eksperimen
yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan
oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992) . Lebih lanjut Ismail
(2003) menyatakan istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri
khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
1. rasional teoritik yang logis disusun
oleh perancangnya,
2. tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3. tingkah laku mengajar yang
diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil
4. lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi
peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus
memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber
belajar yang ada agar penggunaan model
pembelajara dapat diterapkan secara efektif dan
menunjang keberhasilan belajar
siswa.
Berikut beberapa model Khas Sains:
1.
Problem Based Learning (PBL)
Dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM) merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk
melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk
menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Model PBL
dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner.
Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep
tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model PBL yang
berorientasi pada kecakapan memproses informasi.
Menurut
Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada
keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk
atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.
Problem Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan
bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pemelajar pun harus
harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok kecil.
Umumnya, setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan proses tujuh
langkah:
·
Mengklarifikasi
istilah dan konsep yang belum jelas
·
Merumuskan masalah
·
Menganalisis masalah
·
Menata gagasan secara
sistematis dan menganalisis
·
Memformulasikan
tujuan pembelajaran
·
Mencari informasi
tambahan dari sumber lain
·
Mensistesis
(menggabungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.
Kelebihan Model Pembelajaran
PBL:
1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus
untuk lebih memahami isi pelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa
serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa.
4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan siswa untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang
dilakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk
melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan
sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru
atau dari buku saja.
7. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan
disukai siswa.
8. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan siswa
untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam dunia nyata.
10.Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa
untuk secara terus menerus belajar, sekalipun belajar pada pendidikan formal
telah berakhir.
Adapun kelemahan-kelemanan dari penggunaan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL), adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2006:221):
1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau siswa
berasumsi bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan
merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan model pembelajaran melalui Problem Based
Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa siswa berusaha memecahkan
masalah yang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang ingin
dipelajari.
2. Project based learning
Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu
investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif
melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset
terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan. Berdasarkan
teori tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek adalah
pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa untuk dapat memahami
suatu konsep dengan melakukan investigasi mendalam tentang suatu masalah dan
menemukan solusi dengan pembuatan proyek.
Pada Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa karakteristik berikut
ini, yaitu :
- Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
- Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik
- Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan;
- Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
- Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
- Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;
- Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
- Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Tujuan Project Based Learning
1. Meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam pemecahan masalah proyek
2. Memperoleh pengetahuan dan
keterampilan baru dalam pembelajaran
3. Membuat peserta didik lebih aktif
dalam memecahkan masalah proyek yang kompleks dengan hasil produk nyata
4. Mengembangkan dan meningkatkan
keterampilan peserta didik dalam mengelola bahan atau alat untuk menyelesaikan
tugas atau proyek
5. Meningkatkan kolaborasi peserta
didik khususnya pada PBL yang bersifat kelompok
Langkah-langkah Project Based Learning
a. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
b. Mendesain Perencanaan Proyek (Design
a Plan for the Project)
c. Menyusun Jadwal (Create a
Schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif
menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini
antara lain:
1.
membuat timeline (alokasi waktu) untuk
menyelesaikan proyek,
2.
membuat deadline (batas waktu akhir)
penyelesaian proyek,
3.
membawa peserta didik
agar merencanakan cara yang baru,
4.
membimbing peserta
didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan
5.
meminta peserta didik
untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
d.
Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor
the Students and the Progress of the Project)
e.
Menguji Hasil (Assess the Outcome)
f. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
- Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.
- Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
- Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
- Meningkatkan kolaborasi.
- Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
- Meningkatkan keterampilan peserta didikdalam mengelola sumber.
- Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
- Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
- Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
- Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
- Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
- Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
- Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.
- Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
- Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
- Ada kemungkinanpeserta didikyang kurang aktif dalam kerja kelompok.
- Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
3. Discovery Learning
merupakan sebuah teori
pembelajaran yang diartikan sebagai bentuk proses belajar yang terjadi
jika siswa tidak disuguhkan dengan pelajaran dalam bentuk akhirnya, akan
tetapi diharapkan untuk mengorganisasi sendiri.
Karakteristik dari Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan
a) Peran guru sebagai pembimbing;
b) Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang
ilmuwan;
c) Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan
peserta didik melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, serta membuat kesimpulan.
Langkah - langkah Model
Pembelajaran Discovery Learning:
1.
Menentukan tujuan
dari pembelajaran
2.
Menganalisis/mengidentifikasi
karakterisitik para siswa
3.
Memilih materi
pelajaran.
4.
Menentukan topik -
topik yang harus dipelajari oleh peserta didik secara induktif (dari contoh yang bersifat general)
5. Mengembangkan suatu
bahan belajar yang berupa ilustrasi, contoh - contoh, atau tugas yang nantinya
dipelajari oleh siswa.
6.
Mengorganisir topik -
topik pembelajaran dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
7. Melakukan penilaian hasil belajar dan proses.
Kelebihan Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning atau
Penemuan
a. Membantu
siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses
ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
b. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini
sangat pribadi dan ampuh karenamenguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
c. Menimbulkan rasa
senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki danberhasil.
d. Metode
ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat
dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
e. Menyebabkan siswa
mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkanakalnya dan motivasi
sendiri.
f. Metode
ini dapat membantu siswa memperkuat konsep
dirinya, Karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
g. Berpusat
pada siswa dan guru berperan sama-sama
aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak
sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
h. Membantu siswa menghilangkan
skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan
tertentu atau pasti.dll
Kelemahan Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning atau
Penemuan
a. Metode ini menimbulkan
asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk
belajar. Bagi siswa yangkurang pandai, akan mengalami
kesulitan abstrak atauberpikiratau mengungkapkan hubunganantara
konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga
pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
b. Metode
ini tidak efisien untuk mengajar jumlah
siswa yang banyak, karenamembutuhkan waktu yang
lama untuk membantu mereka menemukan teori
atau pemecahan masalah lainnya.
c. Harapan-harapan
yang terkandung dalam metode ini dapat
buyar berhadapandengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan
cara-cara belajar yang lama.
d. Pengajaran discovery
lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,
sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan
kurang mendapat perhatian.
e. Pada
beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang
fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para
siswa
f. Tidak
menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan
ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru
Sebenarnya ada banyak
model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sains, selama pendidik mampu
menerapkan model tersebut secara profesional dan didukung sarana prasarana
serta materi yang pas. Penulis hanya menuliskan 3 diantara banyak model yang
dapat diterapkan dalam pembelajaran sains.
Selain model diatas,
penulis pernah membaca buku Robin Fogarty (1991) yaitu mengenai model
pembelajaran yang memadukan konsep, keterampilan, topik dan unit yang menurut
saya cocok digunakan dalam pembelajaran sains terutama pada mata pelajaran IPA
yang menggabungkan konsep Biologi, Fisika, dan Kimia. Terdapat sepuluh cara atau
model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model
tersebut adalah:
(1) fragmented
(2) connected
(3) nested
(4) sequenced
(5) shared
(6) webbed
(7) threaded
(8) integrated
(9) immersed
(10) networked
Dari penjelasan mengenai
model pembelajaran khas sains diatas penulis masih bingung mengenai beberapa
hal yang mungkin bisa didiskusikan bersama pembaca sekalian, diantaranya :
1. Penulis adalah seorang pendidik disalah satu
ilmu Sains yaitu Fisika, dengan berkembangnya zaman maka berkembang pula sistem
pendidikan yang sekarang sudah memasuki kurikulum 2013 revisi yang berpusat
pada siswa. Sangat sulit bagi kami guru fisika memilih model yang tepat dalam proses
pembelajaran yang sebagian besar adalah perhitungan rumit. Selain menggunakan
model konvensional dengan metode ceramah, mungkin ada saran dari pembaca untuk
guru fisika mengenai model apa saja yang dapat kami terapkan dalam pembelajaran.
2. Untuk menerapkan model pembelajaran tentu
syarat utamanya adalah guru harus mampu menguasai model pembelajaran tersebut.
Permasalahan yang sering penulis temukan adalah guru hanya tau langkah atau
ciri dari model tersebut namun tidak
menguasainya secara keseluruhan terutama dalam peerapannya. Bagaimana cara
meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tersebut?
3. Pendidikan indonesia secara peringkat
berdasarkan penelitian UNESCO berada dibawah beberap negara ASEAN lainnya
seperti singapore, malaysia, dll. Pertanyaannya, apakah model pembelajaran
berpengaruh terhadap kualitas pendidikan negara kita? Jika iya atau tidak,
tolong dijelaskan. Terimakasih..
Saya skan menyikapi pertanyaan no 3?model pembelajaran tidak begitu berpengaruh terhadap kualitas pendidikan negara tetapi yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu
BalasHapus(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan yang terakhir.
Berdasarkan artikel yang pernah saya baca penyebab rendahnya tingkat kualitas pendidikan itu bukan model pembelajaran.
Saya baca ada Banyak factor yang menyebabkan rendahnya angka pendidikan di Indonesia, antara lain:
• Efektifitas Pendidikan di Indonesia
• Efensiensi Pengajaran di Indonesia
• Standarisasi Pendidikan di Indonesia
• Rendahnya Fasilitas Sarana Fisik
• Rendahnya Kualitas Guru
• Rendahnya Kesejahteraan Guru
• Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
• Mahalnya Biaya Pendidikan
• Beberapa Sekolah di Indonesia Kekurangan Guru.
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya.
Terima kasih
terima kasih atas postingan saudara
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3.
menurut saya model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang ikut serta dalam mempengaruhi kualitas pendidikan diindonesi. karena salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah rendah/tinggi nya kualitas guru. kalau guru/pendidik nya berkualitas maka pendidikan pun akan lebih baik karena model yang diterapkan guru juga akan semakin efisien.
terimakasih
Assalamualaikum wr.wb menurut pendapat saya guru dapat meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, diadakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran agar guru dapat menguasai metode pembelajaran dan menerapkannnya di kelas
BalasHapusSebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa. Kemudian guru dapat meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, diskusi dengan guru bidang studi yang sama dengan sekolah lain, dan membaca kembali refrensi baik itu jurnal ataupun buku teks.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Menanggapi soal no 2.
BalasHapusUntuk mengatasi hal tersebut, hendaknya guru mengikuti pelatihan pelatihan yang di adakan oleh pemerintah. Dan selain itu guru harus lebih memahami terlebih dahulu mengenai model model pembelajaran yang akan di terapkan, agar pada saat pelaksanaannya guru memang benar benar sudah menguasainya, sehingga proses pembelajaran dengan model tersebut dapat terlaksana sebagaimana mestinya.
Pertanyaan nomor 3 sangat menarik menurut saya; Pendidikan indonesia secara peringkat berdasarkan penelitian UNESCO berada dibawah beberap negara ASEAN lainnya seperti singapore, malaysia, dll. Pertanyaannya, apakah model pembelajaran berpengaruh terhadap kualitas pendidikan negara kita? Jika iya atau tidak, tolong dijelaskan. Terimakasih.
BalasHapusMenurut saya sangat berpengaruh. Sepengetahuan saya model pembelajaran ini diperlukan untuk memastikan suatu proses pembelajaran berjalan sesuai arah dan pencapaian yang diinginkan. jika guru mampu mendesain model pembelajaran dengan baik, kemudian sisiwa juga mampu menjalankannya secara efektif tentu pembelajaran bisa menghasilkan siswa yang cerdas, kritis, kreatif, inovatif,penuh percaya diri serta berprestasi,.
Assalamualaikum wr wb
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 2. Meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran yaitu dengan cara pemerintah misalnya dinas pendidikan mengadakan pelatihan mengenai model pembelajaran yang wajib diikuti oleh guru-guru dan langsung diadakannya simulasi berbagai macam model pembelajaran tersebut sehingga guru dapat memahaminya dengan benar, dapat juga dengan berdiskusi dengan rekan sejawat dan guru juga dapat dengan belajar mandiri.
Artikel yang menarik.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan sdri.Ranti yg no.2 yaitu: Untuk menerapkan model pembelajaran tentu syarat utamanya adalah guru harus mampu menguasai model pembelajaran tersebut. Permasalahan yang sering penulis temukan adalah guru hanya tau langkah atau ciri dari model tersebut namun tidak menguasainya secara keseluruhan terutama dalam penerapannya. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tersebut?
-menurut saya, untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran,tentunya guru tsb harus mengikuti workshop-workshop yang diadakan oleh pemerintah,misalnya saja seminar pengenalan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam k.13,tentunya para guru diberikan pelatihan agar tidak terjadinya miskonsepsi. Antar Guru pun juga bisa saling sharing. Guru pun harus banyak membaca dari berbagai sumber bagaimana cara menerapkan model tsb dengan benar,guru bisa membaca dari buku atau jurnal penelitian seorang ahli pendidikan. Dengan begitu banyak nya bekal,guru tsb bisa menguasai bagaimana model pembelajaran itu bisa diterapkan dengan benar.
Terima kasih.
Terima kasih atas ulasan yang diberikan. Saya akan menanggapi pertanyaan yang no. 3. Menurut saya kemampuan guru sangat berperan penting untuk menentukan penggunaan model pembelajaran yang tepat pada suatu materi pelajaran. Maka untuk meningkatkan hal tersebut perlu adanya kegiatan pelatihan, workshop, teacher meeting dan penataran yang dilaksanakan dari pemerintah maupun kelompok belajar guru itu sendiri. Dengan memperbanyak ilmu dari berbagai sumber tentunya kompetensi guru akan meningkat.
BalasHapuscara meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tersebut?
BalasHapusyaitu dengan memperbanyak pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh sekolah maupun pemerintah, kemudian bisa bergabung dengan mgmp karena disitu kita bisa bertukar pikiran dengan teman sejawat tentang perkembangan proses pembelajaran disekolah pada masa sekarang.
baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3, menurut saya tentu berpengaruh yang mana dengan model pembelajaran dan perlakuan yang cocok dan bisa diterima oleh siswa tentunya akan berpengaruh terhadap pola pikir yang dimana nantinya siswa akan bisa menerima pelajaran dengan baik serta siswa bisa memperoleh hasil belajar yang baik dan maksimal dan secara tidak langsung bisa berdampak pada kualitas pendidikan diindonesia, trimakasih........
BalasHapusAssalamualaikum
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no 2. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tersebut? Banyak cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran. Misalnya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan pemerintah, bertanya dengan teman sejawat, menggali informasi sebnayak mungkin baik dari buku maupun dari internet, berdiskusi dengan guru-guru sesama bidang studi (MGMP), dan yang paling penting guru harus terus mencoba menerapakn berbagai macm model pembelajaran di kelas.
Saya akan menanggapi pertanyaan kedua yaitu langkah langkah yg harus dilakukan seorang guru dalam meningkatkan kemampuan dalam menerapkan model pembelajaran adalah dengan rajin membaca literatur, mengikuti diklat/pelatihan, aktif dlm kegiatan KKG/MGMP, serta yg tidak kalah penting adalah mencoba terus model pembelajaran sesuai kebutuhan selaras dng membuat PTK, dr PTK yg kita buat terdapat refleksi, dari refleksi kita akan mengetahui kekurangan kita dan memperbaikinya.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan kedua yaitu langkah langkah yg harus dilakukan seorang guru dalam meningkatkan kemampuan dalam menerapkan model pembelajaran adalah dengan rajin membaca literatur, mengikuti diklat/pelatihan, aktif dlm kegiatan KKG/MGMP, serta yg tidak kalah penting adalah mencoba terus model pembelajaran sesuai kebutuhan selaras dng membuat PTK, dr PTK yg kita buat terdapat refleksi, dari refleksi kita akan mengetahui kekurangan kita dan memperbaikinya.
BalasHapusPenulis adalah seorang pendidik disalah satu ilmu Sains yaitu Fisika, dengan berkembangnya zaman maka berkembang pula sistem pendidikan yang sekarang sudah memasuki kurikulum 2013 revisi yang berpusat pada siswa. Sangat sulit bagi kami guru fisika memilih model yang tepat dalam proses pembelajaran yang sebagian besar adalah perhitungan rumit. Selain menggunakan model konvensional dengan metode ceramah, mungkin ada saran dari pembaca untuk guru fisika mengenai model apa saja yang dapat kami terapkan dalam pembelajaran.disini saya mengajukan model pembelajaran kontekstual karena semua pembelajaran fisika berhubungan dengan interaksi di alam sehingga perlu model pembelajaran yang mengaitkan materi dengan pengalaman.
BalasHapussharing untuk pertanyaan nomor 1 bu ranti dari model pembelajaranya indonesia cara meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tersebut adalah dengan mengikuti workshop maupun pelatihan yang kini rajin dilanksanakan oleh pemerintah. dan guru pun bisa terus berlatih dengan menggunakan model tersebut sembari mengevaluasi diri sendiri dimana kekurangan dari langkah yang diterapkan.
BalasHapusSaya menanggapi pertanyaan no 2, Bagaimana meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran?
BalasHapusMenurut saya peningkatan kompetensi guru harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari guru maupun lembaga pendidik lainnya. Misalnya mengikuti penataran guru, seminar, musyawarah guru bidang studi, bisa belajar sendiri membaca informasi dari buku, media masa media elektronik dll.
Trimakasih
Saya menanggapi pertanyaan no 2, Bagaimana meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran?
BalasHapusMenurut saya peningkatan kompetensi guru harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari guru maupun lembaga pendidik lainnya. Misalnya mengikuti penataran guru, seminar, musyawarah guru bidang studi, bisa belajar sendiri membaca informasi dari buku, media masa media elektronik dll.
Trimakasih
Baiklah saya akan mencoba menjawab soal nomor 2. menurut saya sebelum kita menerapkan suatu model pembelajaran terlebih dahulu kita harus mengetahui apa kebutuhan materi yang akan kita sampaikan, apakah materi berbentuk teori atau materi berbentuk praktek. terkait model pembelajaran untuk guru fisika yang dapat terapkan dalam pembelajaran fisika diantaranya jika berbentuk teori adalah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran langsung (sintaks) sedangkan dallam praktek dapat menggunakan model pembelajaran inquiri dan model pembelajaran kolaborasi.
BalasHapus